Cabut Tunggul, Pembuatan Parit dan Titik Tanam

Cabut Tunggul, Pembuatan Parit dan Titik Tanam Kegiatan cabut tunggul dilakukan setelah land clearing. Tanaman akasia mangium memang merupakan tanaman yang tidak akan tumbuh trubus setelah ditebang. Namun tunggul ini akan mudah lapuk dan mudah mengundang rayap untuk datang.

Cabut Tunggul, Pembuatan Parit dan Titik Tanam
Kegiatan cabut tunggul dilakukan setelah land clearing. Tanaman akasia mangium memang merupakan tanaman yang tidak akan tumbuh trubus setelah ditebang. Namun tunggul ini akan mudah lapuk dan mudah mengundang rayap untuk datang.
Rayap sangat mudah mencari dan memilih kayu yang memiliki kadar selulose tinggi. Akasia memiliki rendemen selulosa tertinggi (45-55%) dibanding kayu lunak lainnya seperti Jabon, Sengon, Albasia, Trembesi dll
Oleh karena itulah Tunggul kayu ini harus segera dibersihkan.
Terdapat 2 jenis rayap yang cukup berbahaya terhadap tanaman Durian :
Rayap jenis Coptotermes curvignatus merupakan jenis rayap putih yang tidak membuat sarang, namun mampu memakan jaringan pohon yang hidup dan mati
Sedangkan Macrotermes gilvus merupakan jenis rayap coklat yang tidak membuat sarang yang juga dapat memakan jaringan pohon hidup dan mati.
Rayap jenis Amitermes merupakan jenis rayap yang membuat sarang Gumuk, dan tidak merugikan karena hanya memakan jaringan kayu mati saja,
Masalah akan muncul setelah cadangan makanan di lahan habis, sedangkan populasi rayap sudah tinggi, makan mereka akan menyerang tanaman di atasnya, yaitu menyerang tanaman Durian.
Selain mencegah rayap, cabut tunggul juga akan memberikan aerasi yang baik di zona perakaran. Hal ini karena akar akar kecil yang tertinggal akan melapuk dan menyisakan rongga udara, sehingga porositas tanahnya akan membaik.
Tanah Podzolik Merah Kuning (PMK)/Ultisol
Merupakan ciri khas tanah yang terbentuk pada daerah yang memiliki curah hujan tinggi, yaitu 2500-3000 ml/tahun. Contohnya di Mineral Soil Sumatra dan Kalimantan, Jawa Barat, Maluku, Papua dll
Tanah ini bersifat liat berpasir memiliki lapisan hara yang rendah, bersifat asam, dan sangat rentan defisiensi phospor.
Oleh karena itu tanah ini lebih cocok untuk perkebunan. Pada tanah datar dengan kandungan liat tinggi lebih cocok untuk persawahan.
Dalam kasus dibawah ini, lahan durian dibangun diatas tanah URUKAN jenis PMK/Ultisol yang dibawahnya bekas tanah sawah.
Artinya lahannya datar,
Dengan curah hujan tinggi di musim hujan dan Cuaca Panas di musim kemarau, maka diperlukan manipulasi irigasi dan drainase dengan membuat parit putus.
Parit putus bisa dibuat sistem 4:1 atau 2:1 dengan ukuran lebar 80 cm x Tinggi 80 cm dan Panjang 24 m selang jarak antar parit didalam 1 baris parit memanjang adalah 4 meter.
Sistem 4:1 artinya, setiap 4 baris tanaman terdapat 1 baris parit.
Sistem 2:1 artinya, artinya setiap 2 baris durian terdapat 1 baris parit
Semakin rendah resiko genangan maka perbandingan baris durian dengan parit akan semakin besar. Parit ini akan mengurangi kelebihan air di musim hujan dan cadangan air di musim kemarau.
Selain parit putus, pada titik tanam bisa juga dibuatkan gundukan dengan radius 75-100 cm tinggi 50 cm. Gundukan dibuat dengan lapisan dasar berupa sekam setebal 1-2 cm kemudian ditutup dengan mengumpulkan tanah atas (top soil) setebal 10-15 cm dari radius 4 meter dari titik tanam, setidaknya lapisan top soil ini sudah memiliki kadar hara yang lebih baik dibandingkan tanah sub soil.
Pada saat gundukan tanah PMK ini terkena hujan, maka lapisan pasir akan mudah terkikis, sedangkan lapisan liatnya akan menutup permukaan, sehingga menghalangi penyerapan air ke bawah tanah. Satu sisi bagus untuk mencegah akar tergenang. Namun, akan menjadi masalah ketika musim kemarau karena air akan kesulitan menembus lapisan bawah. Hal inilah yang mengakibatkan pertumbuhan terlihat kerdil/stagnan di musim kemarau, padahal sudah disiram,
Inilah fungsi dari kandungan sekam di dasar gundukan, yaitu untuk menahan air di musim kemarau, untuk mempermudah irigasinya bisa dibuatkan lubang resapan Biopori

Share this story: